Minggu, 02 Oktober 2011

Tips menghadapi kekurangan ekonomi dalam belajar di smpn 4brebes

Kekurangan ekonomi yang sakuri hadapi pada tahun 1991, bermula pada saat perubahan pasar bawang kawak/ bibit bawang, yang dahulu pembelian bibit tidak sedikit para petani daerah lain membeli bibit di toko pertanian yang terletak di daerah brebes, bapak toip adalah salah satu penyalur bibit bawang ke toko penjual bibit yang terletak di daerah brebes.
Itulah pasar perubahan bisa terjadi kapanpun dan hal ini tidak di antisipasi oleh orang tuaku, walhasil perputaran roda perekonomian jadi macet. Sebab cuma hal itu yang sanggup beliau lakukan di samping bertani dan menjadi calo atau perantara orang yang sedang membutuhkan tenaganya.

Ketika sakuri lulusan SDN CABAWAN 02, DENGAN NILAI EBTANAS MURNI 42.59 DAN MENDUDUKI PERINGKAT PERTAMA DI SEKOLAHNYA, IA INGIN MELANJUTKAN SEKOLAH DI PESANTREN.
tapi yang namanya hambatan tetap aja menghadang di depan mata. Yaitu izin untuk nyantri tak ada izin dari pihak manapun termasuk kakakku sendiri yaitu BADIRI yang notabene dulunya pernah nyantri itupun melarang dengan terang-terang alasan yang dia kemukakan adalah EKONOMI,
sampai-sampai jadwal pendaftaran mau di tutupun tidak ada pergerakan yang di lakukan oleh karena itulah akhirnya aku memberanikan diri untuk mendaftar di sekolah negeri dan ikut-ikutan teman mendaftar, sebab sejatinya diriku tidak tahu prosedurnya.

Terdamparnya aku di daerah brebes tepatnya di SMPN 4 brebes di jl.p.diponegoro, dengan menduduki peringkat tertinggi saat pendaftaran di bandingkan dengan siswa-siswi lain, karena umumnya anak-anak yang mempunyai nilai NEM TINGGI mereka akan memburu sekolah yang bonafid yaitu di SMPN 2 BREBES, hal ini aku lakukan karena banyak aku pertimbangkan salah satunya adalah lokasi bisa di jangkau pakai sepeda, pembelian buku paket tidak di wajibkan, pembayaran spp bisa di tunda yang terpenting keamanan agak longgar atau tidak terlalu ketat, tidak seperti sekolah lain jika jam pelajaran sudah di mulai siswa di larang keluar masuk dengan seenaknya.

Pada masa awal-awal tidak terbayang olehku akan cara pengajaran yang terdapat di smp berbeda jauh seperti di sekolah dasar.
Bersepeda yang berjarak kurang lebih 7km dari rumahnya tidak membuat aku patah arang, malahan semangat diriku kian berkobar. Di karenakan kondisi ekonomi keluarga lagi tidak memungkinkan akhirnya aku akan tetap melanjutkan sekolah tanpa harus menyusahkan orang tua.

Hal yang aku lakukan salah satunya adalah les privat kepada teman-teman sekolahku dengan bayaran ala kadarnya seperti jajan gratis di kantin, bayar spp di bayarin, oleh teman yang menjadi anak didik yang ikut les privat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar