Senin, 12 September 2011

Ketergantungan terselubung

Trauma masa kecil atau watak bawaan lahir ataukah keras kepala/egois.
Kata yang diatas di anggap sebagai sebab keadaan diriku pada saat ini, oleh karena kontroversi yang di atas maka akan di urai secara detail faktor yang sebenarnya yang berkaitan dengan diri penulis yaitu sakuri.

Menurut pribadi sang penulis kenapa dia saat ini mempunyai kondisi terpuruk tidak lain karena ulah dari diri dia sendiri, yang menjelang usia menginjak 34 kemanjaan dan merasa kurang kasih sayang menghambat motorik berkerja dengan normal.

Faktor yang di anggap sepele oleh dia selalu remehkan, justru hal inilah yang menjadikan bumerang bagi diri dia sehingga dia tidak ada kemajuan secara global.

Teruntuk sang pasangan yaitu sang istri indrawati selalu melemahkan dan selalu menambah beban psikologis, tidak ada ruang gerak yang longgar untuk pergerakan dia, timing tersebut sama berbarengan dengan kondisi drop dia kemudian di perparah oleh ulah sang pasangan hidup, yang notabene kecintaan dan kasih sayang kepada sang suami mulai berkurang hal ini terjadi tanpa ia sadari. Sedangkan sang suami yang sangat mencintai istrinya tak mempunyai bekal ilmu yang cukup bagaimana bentuk dan rupa menyampaikan bentuk rasa sayangnya, hal ini berkaitan kebiasaan dia menerima apapun bentuk yang telah di tetapkan qodha dan qadar oleh alloh swt.

Penilaian kesuksesan yang selalu di lihat berdasarkan materi menjadikan dia tergolong orang yang merugi.

Pola pandang masyarakat sekitar yang serbanya ingin tahu menjadikan memperparah kondisi psikologis sang istri menjadi manusia kritis dan tak mau di kritisi.

Miss komunikasi antara sang suami dengan sang istri menjadikan kesenjangan yang semangkin ternampakan hal ini terjadi karena tidak ada keselarasan dari pihak istri yang terlebih dahulu memvonis bahwa suaminya sudah tidak termaafkan kembali, berdasarkan pengumpulan kesalahan atau kehilapan yang di lakukan sang suami tempo dahulu kala. Menjadi senjata andalan sang istri untuk memojokkan sang suami jika kesandung masalah.

Momentum saling maaf dan memaafkan, berminal aidzin/berlebaran, pengakuan bersalah dan sudah temaafkan, hanyalah di jadikan monumen belaka.
Konsekwensi selalu di abaikan, yang selalu di junjung tinggi oleh sang istri adalah pembuktian komitmen saya selaku suami tentang perubahan yang di janjikan sang suami kepada istrinya, cuman di batasi aksi gerak-geriknya dengan catatan dan di garis bawahi yaitu" jangan menjalankan usaha di bidang terapi jika menjalan bidang terapi dan di fokuskan di bidang tersebut ia memilih untuk berpisah dengan suaminya menurut dia;" pilih opsi mau pilih terapi berarti bersiaplah untuk kehilangan sang istri yaitu sang istri minta cerai, atau berjalan seperti apa adanya dengan selalu di monitoring secara berkala dengan pengawasan langsung dari sang istri."

kekurangan ekonomi menjadi faktor pemicu nomer satu di keluarga kami, akan tetapi hal ini di tolak dengan dalil bahwa dia bukan istri yang matrialistis,
pemicu nomer dua;" adalah kesenjangan kerukunan rumah tangga yang di picu; miss komunikasi, hal ini di bantahkan sang istri dengan terlebih dahulu memvonis "percuma bermusyawarah berujung di pengin menang sendiri".
Tak ada kesempatan dan tak ada ruang untuk komunikasi di antara kami berdua.
Pemicu yang ketiga;" adalah orang ketika yang ada di tengah-tengah rumah tangga kami yang hampir tak terlihat tapi bisa di rasakan."
oleh karena itulah sang suami menjalankan sunah nabi dengan cara mengurangi banyak bicara, dengan cara belajar diam dan mengurangi bicara yang tidak perlu.
Mengejar ketertinggalan di materi dengan cara giat berkerja, dan belajar menggapai kefokusan.
Sedangkan tentang terapi yang sangat di benci sang istri, tetap akan aku fokuskan, tinggal menunggu waktu yang tepat.
Tentang tanggapan dan ancaman sang istri terhadapku aku persilakan di menggugat saya, tapi tentang pengucapan talaq ke dia aku haramkan diriku mengungkapkan kata-kata tersebut. Sebab aku sakuri sangat sayang pada isteriku INDRAWATI apapun yang ada pada isteriku baik dan buruknya aku siap menerima apa adanya. Aku memanjatkan rasa syukur pada alloh swt.
Terimakasih aku persembahkan pada pendamping hidupku,
dan semua pihak yang telah membantu aku. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar