Keluargaku adalah surgaku banyak sekali kedamaian yang aku dapati di sana, dan tidak luput kesengsaraan batin aku alami pula tapi aku tidak menampik permasalahan itu datang berawal dan bersumber dari diriku.
Entah mengapa semua ini mesti terjadi, tapi ada suatu catatan yang harus aku aku catat untuk ku kenang sepanjang masa.
Yaitu; rasa sayangku kepada isteriku tak pernah pudar walaupun pada kenyataannya beliau isteriku sudah tak sayang lagi padaku.
Aku tidak berkecil hati kepada isteri tapi aku menaruh harapan besar kepada anak-anakku. Cukuplah cuma aku saja yang mengalami kejadian ini.
Keluarga besarku tidak tahu kejadian yang aku alami sebab selama ini aku menyembunyikan kesedihan yang aku alami selama ini DIAM ADALAH SOLUSI YANG AKU AMBIL.
kegembiraanku kuperlihatkan di hadapan keluarga besarku adalah kesemuan belaka.
Itulah awalan kesedihan yang aku alami tapi akhirnya aku tersadar bahwa nyatanya selama ini aku yang salah yang benar ternyata ada di pihak isteriku, oleh karena itu aku malu terutama pada diriku sendiri yang kenyataannya aku tidak bisa memahami apa-apa. Aku sangat bodoh di hadapan isteriku nilai apapun yang aku punya di masyarakat walaupun di nilai bagus, tapi kenyataanya di hadapan isteriku aku tak ada nilainya.
Saat ini aku baru memahami kekeliruan yang selama ini aku perbuat dan aku baru menyadari kebodohanku dan sebenarnya kebodohanku sudah terlihat nyata dari tampangku.
Aku bersukur sekali mempunyai seorang isteri seperti indrawati banyak sekali barokah yang aku dapati setelah aku menikah dengannya,
ada yang menggelayuti pikiranku yaitu sang isteriku meminta bercerai denganku jika kebiasaan lamaku tidak aku rubah pertanyaannya kebiasaan macam apa yang kurang di sukai isteriku
"yaitu cara berbicara yang aku punyai kurang berkenan di hatinya, tingkah laku yang aku punyai terlihat menonjolkan kesombongan (kurang sopan santun) kebiasaan terapi (memijat)".
Itulah beberapa macam hal yang kurang berkesan di hati isteriku, tapi ada hal yang terkadang kontroversi antara pendapat sang isteri kata masyarakat yang tahu kepribadianku menilai apa yang sang isteri ungkapkan di nilai terkesan terlalu mengada-ngada. Tapi aku tekankan pada masyarakat tersebut bahwa apa yang di nyatakan sang isteri benar adanya.
Alhamdulilah alloh selalu membimbing diriku dengan mengetahui ada kekurangan yang aku punya membuat diriku masih perlu belajar banyak, dan semangkin tersadar diriku bahwa aku masih banyak kekurangannya.
Makasih duhai isteriku maafkan daku belum bisa membahagiakan dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar