Pada tahun 1996 saat di cilincing jakarta utara di warteg watonah penggemblengan untuk bisa mandiri di lakukan tapi sayang kisahnya dan hasilnya tidak seperti apa yang di harapkan di karenakan ada pihak yang merasa tersisihkan karena kondisinya pada saat itu kurang kondusif akhirnya keberadaan diriku di cilincing tidak bertahan lama, langkah angkat kaki aku lakukan dan kaki aku pijakan di daerah pelabuhan sunda kelapa pintu satu jl lodan raya melamar pekerjaan di wahidin tepatnya di warung rokok, toko, dan warteg milik anak-anaknya. Selama berada di sana diriku di kenalkan berbagai macam kehidupan yang cukup keras dari minuman keras sampai temperamen tinggi bermula dari sana, hiruk pikuk kendaraan kontainer besar bisiknya deru mesin polusi udara mendukung sekali dengan pencetakan kekerasan jika tidak ada filter, banyak sekali kasus yang aku buat di sana dari pelarian diriku dari orang tua sampai perlawanan kepada wahidin sang pemilik tempat tersebut, klimaknya terjadi juga tapi dengan kejadian tersebut membuat aku semangkin tersadar dari pada kekeliruan yang aku buat hal ini terjadi memang sudah tergariskan di suratan takdir, kemudian di mulailah sebuah ritual yang tak lazim aku lakukan yaitu tidak memakan nasi walaupun cuma saupa, makanan yang aku makan adalah sayuran, sedangkan siang harinya aku isi dengan berpuasa . Hal yang demikian aku lakukan semata-mata di tunjukan sebagai bentuk perwujudan penyesalan dari dosa-dosa yang selama ini di lakukan, nadar hal ini akan aku lakukan jika orang tua tak memaafkan segala kesalahan yang pernah aku lakukan, klimaks kejadian itu selesai lebaran usai, mulai di sinilah lembaran baru di mulai tapi amat di sayangkan hasilnya tidak seperti yang di harapkan. Itulah proses yang mesti aku lalui selepas lebaran usai aku berangkat kembali ke pelabuhan tapi sepertinya keberangkatan kali ini tidak di harapkan penghuni yang ada di sana tapi aku sadar dan memaklumi, akhirnya aku di pindahkan di kebon jeruk di warteg milik bibi suem adik ibuku, tapi sayang diriku tidak kerasan di sana karena ada hal yang tidak bisa aku sembunyikan terutama jika datang waktu sholat. Sebab tempat tidak memenuhi persyaratan, sebab aktifitasnya sangat berbenturan dengan jadwal waktu sholat, dari sebab itulah aku tak ber tahan lama di sana dan memutuskan ke bogor kembali di warungnya badiri. Selama di sana pasnya 3bulan janji manis yang di tawarkan terutama hal masa depan untuk diriku dalam usaha, janji tersebut akan di realisasikan selepas aplus di warung tersebut, namanya anak muda kata manis tersebut dia tunggu sampai masa aplus datang ternyata tidak ada realisasinya. Bermula dari sinilah awal tragedi besar di mulai.
Migrasi ke tanggerang tepatnya ke balaraja kampung sentiong di warungnya sapuroh sembari rasa kesal yang menyesakkan dada tragedi kawidaran cikupa di mulai berawal dari tawaran sebuah warteg yang akan di jual, dari sinilah bermula tragedi.
Pirasat sebenarnya sudah ada tapi yang namanya takdir tidak bisa di bantah dan harus di jalani, tragedi tersebut bertepatan dengan tragedi 11 mei 1998: ) sejak itulah kerugian besar yang baru pertama kali aku alami, dan membuat down, akhirnya keputusan aku ambil yaitu pulang kampung.
Bertani adalah solusi terbaik dai sinilah pertemuan dengan istriku bermula, sosok wanita idaman yang akan melahirkan anak dari benih cinta dan sayang. Tapi alangkah di sayangkan kemampuan pencarian ekonomi pada saat itu belum aku kuasai, yang lebih parah lagi profesiku tukang becak yang notabene sebuah pekerjaan di pandang orang tuaku sebagai pekerjaan kelas paling bawah, tapi mempunyai kedudukan istimewa untuk kalangan tertentu. Dan pada tahun 2000 bulan juli tanggal 21 pernikahan di langsungkan. Semoga pernikahan membawa barokah di dunia dan akherat, amien ya robal alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar